Demi Peta Kebijakan, BPS: Jangan Takut Sensus Ekonomi 2026

Kompas.com - 23/06/2026, 21:41 WIB
I Jalaludin S,
DWN

Tim Redaksi

KOMPAS.com  - Ketika petugas Sensus Ekonomi 2026 ( SE2026) mengetuk pintu, sebagian masyarakat mungkin masih menyimpan keraguan.

Pertanyaan yang muncul pun beragam. Apakah setelah didata masyarakat akan mendapat bantuan? Apakah data sensus akan berkaitan dengan pajak? Mengapa pendataan terus dilakukan jika kondisi hidup terasa tidak banyak berubah?

Sikap skeptis itu dapat dipahami. Namun, salah kaprah mengenai SE2026 perlu diluruskan agar masyarakat tidak menolak pendataan yang menjadi dasar penting dalam penyusunan kebijakan. 

SE2026 bukan pendataan pajak dan bukan pula pendaftaran penerima bansos. Sensus ini merupakan upaya untuk memastikan aktivitas ekonomi masyarakat tercatat dalam peta kebijakan negara.

Dengan demikian, usaha, pekerjaan, dan kegiatan ekonomi masyarakat tidak luput dari perencanaan pembangunan.

Baca juga: Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Yogyakarta, BPS Bidik Kontribusi Pendidikan dan Kebudayaan

Bukan untuk pajak dan bansos

Ada dua misinformasi yang perlu diluruskan sebelum masyarakat menerima petugas sensus dari Badan Pusat Statistik ( BPS).

Pertama, SE2026 bukan pendataan pajak. Di Indonesia, sensus ekonomi dilaksanakan BPS setiap 10 tahun sebagai bagian dari amanat Undang-Undang Statistik.

Tujuan sensus adalah memperoleh gambaran menyeluruh mengenai aktivitas ekonomi masyarakat. Data yang dikumpulkan digunakan untuk kepentingan statistik.

Oleh karena itu, kerahasiaan data individu dan usaha dilindungi oleh undang-undang. Data yang dipublikasikan pun bukan data perorangan, melainkan gambaran umum mengenai kondisi dan struktur perekonomian Indonesia.

Kedua, SE2026 bukan daftar penerima bansos. Mengikuti sensus tidak otomatis membuat seseorang memperoleh bantuan atau program tertentu.

Baca juga: BPS Kerahkan 40.573 Petugas untuk Sensus Ekonomi 2026 di Jawa Barat

Setiap program pemerintah memiliki tujuan, sasaran, dan mekanisme yang berbeda. Namun, kebijakan dan program publik akan sulit dirancang dengan baik jika tidak didukung data yang memadai.

Dalam konteks tersebut, SE2026 menjadi penting karena menyediakan dasar data untuk memahami kondisi ekonomi masyarakat secara lebih utuh.

Pentingnya data untuk peta kebijakan

Setiap hari, jutaan masyarakat Indonesia menjalankan aktivitas ekonomi dalam berbagai bentuk.

Ada yang mengelola warung, bengkel, usaha makanan rumahan, toko kecil, jasa perbaikan, usaha berbasis digital, hingga berbagai pekerjaan mandiri lainnya.

Sebagian besar aktivitas tersebut mungkin tidak selalu muncul dalam pemberitaan atau laporan ekonomi besar. Padahal, dari kegiatan itu, jutaan keluarga memperoleh penghasilan dan ikut menggerakkan perekonomian daerah.

Baca juga: BPS Rekam Transformasi Ekonomi Maluku Utara lewat Sensus Ekonomi 2026

Masalahnya, aktivitas ekonomi yang tidak tercatat akan lebih sulit diperhitungkan dalam proses penyusunan kebijakan.

Jika suatu kelompok usaha tidak terdata, kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi juga akan lebih sulit dikenali. Akibatnya, kebijakan yang disusun berisiko tidak sepenuhnya menjawab kondisi di lapangan.

Oleh karena itu, sensus pada dasarnya merupakan upaya memastikan aktivitas ekonomi masyarakat benar-benar terlihat dalam perencanaan pembangunan.

Data hasil sensus dapat memberikan gambaran mengenai jenis usaha yang berkembang, persebaran kegiatan ekonomi, karakteristik pelaku usaha, serta potensi setiap daerah.

Informasi tersebut menjadi bahan penting bagi pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam memahami kondisi ekonomi secara lebih menyeluruh.

Baca juga: Wakil Kepala BPS RI Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di NTB, Semangat Peresean Jadi Simbol Kolaborasi

Data yang baik juga membantu pembangunan dilakukan secara lebih tepat sasaran.

Ketika aktivitas ekonomi suatu wilayah dapat dipetakan dengan jelas, kebutuhan infrastruktur, pengembangan sumber daya manusia (SDM), dukungan usaha, dan peningkatan konektivitas akan lebih mudah dipahami.

Dengan begitu, keputusan pembangunan tidak hanya didasarkan pada perkiraan, tetapi juga pada kondisi yang benar-benar terjadi.

Memotret usaha di era digital  

SE2026 menjadi krusial karena cara masyarakat Indonesia mencari penghasilan telah berubah dibandingkan 10 tahun lalu.

Transaksi daring semakin umum. Banyak anak muda membangun usaha melalui platform digital dan media sosial, mulai dari menjadi kreator konten, pelaku usaha daring, hingga host live TikTok.

Baca juga: Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Jateng, Wakil Kepala BPS RI: Ada Jutaan Harapan Di Balik Data Statistik

Pada saat yang sama, berbagai usaha tradisional tetap menjadi sumber penghidupan utama bagi jutaan keluarga Indonesia.

Perubahan tersebut perlu tecermin dalam data agar potret ekonomi Indonesia tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Kualitas kebijakan sangat bergantung pada kualitas data yang menjadi dasarnya. Sebaliknya, data yang tidak lengkap dapat membuat sebagian masyarakat berisiko tidak terlihat dalam proses perencanaan.

Jika data tidak akurat, kebutuhan riil masyarakat dapat terbaca keliru. Karena itu, ketika petugas SE2026 datang, masyarakat diharapkan dapat menerima dengan baik dan memberikan informasi sesuai kondisi sebenarnya.

Setiap data yang diberikan bukan sekadar isian kuesioner, melainkan bagian dari upaya memastikan usaha, pekerjaan, dan aktivitas ekonomi masyarakat tercatat dalam peta pembangunan.

Baca juga: BPS Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Kepri dan Sulsel, Perkuat Partisipasi dan Sinergi

Terkini Lainnya
Demi Peta Kebijakan, BPS: Jangan Takut Sensus Ekonomi 2026

Demi Peta Kebijakan, BPS: Jangan Takut Sensus Ekonomi 2026

BPS
Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Yogyakarta, BPS Bidik Kontribusi Pendidikan dan Kebudayaan

Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Yogyakarta, BPS Bidik Kontribusi Pendidikan dan Kebudayaan

BPS
BPS Kerahkan 40.573 Petugas untuk Sensus Ekonomi 2026 di Jawa Barat

BPS Kerahkan 40.573 Petugas untuk Sensus Ekonomi 2026 di Jawa Barat

BPS
BPS Rekam Transformasi Ekonomi Maluku Utara lewat Sensus Ekonomi 2026

BPS Rekam Transformasi Ekonomi Maluku Utara lewat Sensus Ekonomi 2026

BPS
Wakil Kepala BPS RI Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di NTB, Semangat Peresean Jadi Simbol Kolaborasi

Wakil Kepala BPS RI Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di NTB, Semangat Peresean Jadi Simbol Kolaborasi

BPS
Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Jateng, Wakil Kepala BPS RI: Ada Jutaan Harapan Di Balik Data Statistik

Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Jateng, Wakil Kepala BPS RI: Ada Jutaan Harapan Di Balik Data Statistik

BPS
BPS Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Kepri dan Sulsel, Perkuat Partisipasi dan Sinergi

BPS Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Kepri dan Sulsel, Perkuat Partisipasi dan Sinergi

BPS
Pendataan Sensus Ekonomi 2026 Resmi Dimulai, Wakil Kepala BPS RI Canangkan di Sultra dan Sumut

Pendataan Sensus Ekonomi 2026 Resmi Dimulai, Wakil Kepala BPS RI Canangkan di Sultra dan Sumut

BPS
Catat Sejarah Baru, BPS dan Pos Indonesia Hadirkan Sampul Peringatan SE2026

Catat Sejarah Baru, BPS dan Pos Indonesia Hadirkan Sampul Peringatan SE2026

BPS
Pelaku UMKM Capai 59 Juta, Pemerintah Integrasikan Data lewat SAPA-UMKM

Pelaku UMKM Capai 59 Juta, Pemerintah Integrasikan Data lewat SAPA-UMKM

BPS
Integrasi SE2026 dan DTSEN Perkuat Fondasi Data Sosial Ekonomi Nasional

Integrasi SE2026 dan DTSEN Perkuat Fondasi Data Sosial Ekonomi Nasional

BPS
Sensus Ekonomi 2026 Jadi Basis Pemetaan UMKM Nasional

Sensus Ekonomi 2026 Jadi Basis Pemetaan UMKM Nasional

BPS
SE2026 Akan Potret Ekonomi Kreatif, Peran Generasi Muda Jadi Sorotan

SE2026 Akan Potret Ekonomi Kreatif, Peran Generasi Muda Jadi Sorotan

BPS
SE2026 Petakan Kesenjangan Transformasi Digital di Dunia Usaha

SE2026 Petakan Kesenjangan Transformasi Digital di Dunia Usaha

BPS
Hadirkan Terobosan Baru, BPS Terapkan Pendekatan Multimoda dalam SE2026

Hadirkan Terobosan Baru, BPS Terapkan Pendekatan Multimoda dalam SE2026

BPS
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com