KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik ( BPS) resmi mencanangkan pelaksanaan Sensus Ekonomi ( SE2026) di Teras Malioboro 1, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY), Kamis (18/6/2026).
DIY terpilih sebagai salah satu lokasi pencanangan SE2026 karena provinsi ini tidak hanya unggul di sektor pendidikan dan kebudayaan, tetapi juga memiliki daya tahan ekonomi yang kuat.
Ketangguhan ekonomi tersebut dibuktikan melalui pertumbuhan ekonomi DIY yang mencapai 5,49 persen sepanjang 2025.
Capaian itu menjadikan DIY sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Jawa.
Baca juga: Jaga Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Gulirkan 8 Kebijakan Stimulus
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh berbagai sektor, mulai dari pendidikan, pariwisata, budaya, perdagangan, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Keunggulan itu menjadi alasan penting bagi BPS untuk memotret peran berbagai sektor ekonomi di DIY secara lebih komprehensif melalui pelaksanaan SE2026.
Adapun Teras Malioboro 1 dipilih sebagai lokasi pencanangan SE2026 karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat UMKM, wisata belanja, dan kuliner modern yang menjadi simbol dinamika ekonomi masyarakat Yogyakarta.
Dalam kegiatan tersebut, para pelaku UMKM turut dilibatkan melalui pemberian voucher belanja kepada peserta acara.
Baca juga: BPJPH Gencarkan Sertifikasi Halal Gratis untuk UMKM Jogja
Salah satu fokus utama BPS di DIY adalah mengukur efek domino dari predikat Yogyakarta sebagai Kota Pelajar.
Wakil Kepala BPS RI Sonny Harry Budiutomo Harmadi mengatakan, hasil sensus nantinya akan mengukur kontribusi sektor pendidikan terhadap perekonomian DIY secara lebih akurat.
“Kalau kita lihat pendidikan ini luar biasa perannya dalam membangun bangsa, baik membangun manusia maupun ekonomi, sehingga setelah sensus selesai, kami akan mampu menghitung kontribusi sektor pendidikan terhadap perekonomian di DIY,” ujarnya dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Selasa (23/6/2026).
Sebagai tujuan pendidikan bagi mahasiswa dari seluruh Indonesia, keberadaan berbagai perguruan tinggi dan lembaga pendidikan di DIY tidak hanya menghasilkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas, tetapi juga menciptakan berbagai aktivitas ekonomi yang mendukung kehidupan masyarakat.
Baca juga: 20 Universitas Terbaik di Indonesia Versi QS WUR 2027, 5 Kampus Jateng-DIY Masuk Daftar
Keunggulan tersebut tecermin dari capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) DIY yang menempati peringkat kedua tertinggi di Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan menjadi salah satu fondasi utama pembangunan daerah.
Melalui SE2026, BPS akan memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai keterkaitan sektor pendidikan dengan berbagai aktivitas ekonomi, mulai dari perdagangan, jasa, perumahan, transportasi, hingga sektor-sektor penunjang lainnya.
Selain dikenal sebagai Kota Pelajar, DIY juga merupakan pusat kebudayaan yang memiliki kekayaan warisan budaya adiluhung.
Pada 2024, DIY mencatatkan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) tertinggi di Indonesia dengan nilai 71,04.
Baca juga: Daftar Nilai Rerata TKA SD 2026 Semua Provinsi, DIY Tertinggi
Sebagai upaya mengangkat nilai budaya lokal, puncak acara pencanangan SE2026 di Yogyakarta ditandai dengan pelepasan jemparing atau busur panah tradisional.
Jemparing merupakan salah satu warisan budaya tak benda Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, pelepasan jemparing menjadi simbol dimulainya pelaksanaan SE2026 di DIY.
Melalui SE2026, BPS akan menghadirkan data ekonomi yang lengkap, mutakhir, dan terintegrasi sebagai dasar perencanaan pembangunan ekonomi yang lebih tepat sasaran.
Untuk mendukung pelaksanaan sensus di DIY, BPS menerjunkan 4.082 petugas sensus yang akan mendata sekitar 606.000 pelaku usaha.
Pendataan kali ini dilakukan secara door to door kepada keluarga dan pelaku usaha untuk menghasilkan gambaran ekonomi yang lebih menyeluruh.
Baca juga: Hadirkan Terobosan Baru, BPS Terapkan Pendekatan Multimoda dalam SE2026
BPS juga memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mendukung proses pendataan, membantu petugas meningkatkan kualitas data, serta meminimalkan kesalahan input.
Sonny mengatakan, keberhasilan SE2026 sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dan pelaku usaha. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat mengingat slogan TIR, yaitu terima petugas SE2026, isi data dengan benar, dan rahasia pasti terjaga.
Sonny juga mengingatkan seluruh petugas sensus untuk memastikan tidak ada keluarga atau usaha yang terlewat serta menjaga kualitas data yang dikumpulkan.
Baca juga: Mendagri dan Gubernur se-Tanah Papua Dukung Sukseskan Sensus Ekonomi 2026
Pelaksanaan SE2026 di DIY mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY.
Wakil Gubernur DIY Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Paku Alam X mengajak seluruh masyarakat Yogyakarta untuk berpartisipasi aktif dan memberikan data akurat kepada petugas sensus.
Ajakan tersebut disampaikan karena Paku Alam X meyakini hasil SE2026 akan menjadi landasan penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan ekonomi daerah, khususnya untuk mendorong pertumbuhan UMKM, investasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Kita memerlukan potret yang utuh mengenai dinamika usaha kita. Data tersebut akan menjadi dasar untuk meningkatkan pertumbuhan UMKM, investasi, dan manfaatnya lebih terasa bagi seluruh rakyat,” ujar Paku Alam.
Baca juga: Marketplace Jadi Katalis Pertumbuhan UMKM di Era Digital
Sejatinya, pemerintah daerah (pemda) merupakan salah satu pihak yang akan memperoleh manfaat besar dari hasil SE2026.
Sebab, data yang dihasilkan akan membantu pemda menyusun kebijakan pembangunan berbasis bukti tanpa harus mengeluarkan anggaran pendataan secara mandiri melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Dengan karakteristiknya sebagai Kota Pelajar, pusat kebudayaan nasional, sekaligus daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Pulau Jawa, DIY menjadi salah satu wilayah strategis dalam pelaksanaan SE2026.
Hasil SE2026 diharapkan mampu memberikan gambaran utuh mengenai kekuatan ekonomi daerah serta menjadi pijakan penting bagi pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Baca juga: Sensus Ekonomi 2026: Fondasi yang Sering Diabaikan dalam Kebijakan