Sensus Ekonomi 2026: Fondasi Kebijakan Ekonomi yang Lebih Tepat dan Merata

Kompas.com - 11/11/2025, 20:13 WIB
Tsabita Naja,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Indonesia tengah menyiapkan pemutakhiran data ekonomi berskala nasional melalui Sensus Ekonomi 2026 ( SE2026) untuk menggambarkan denyut nadi perekonomian Tanah Air.

Badan Pusat Statistik ( BPS) dalam keterangan tertulisnya kepada Kompas.com, Selasa (11/11/2025) menjelaskan, sensus tersebut akan memotret perjalanan hidup jutaan pelaku usaha yang membentuk wajah ekonomi bangsa, mulai dari warung kecil di pelosok desa, industri kreatif di kota-kota besar, hingga perusahaan digital yang menembus pasar global.

Sensus ekonomi bukan hal baru bagi Indonesia karena telah digelar sejak 1986 dan dilaksanakan setiap sepuluh tahun sekali.

Proses pendataan dilakukan oleh BPS berdasarkan amanat Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik yang mengatur sensus penduduk, pertanian, dan ekonomi.

Baca juga: Perkuat Akurasi Pendataan, BPS Gelar Sensus Ekonomi 2026 Berbasis Digital

SE2026 merupakan sensus ekonomi kelima yang dilaksanakan BPS dan akan digelar pada Mei hingga Juli 2026. Hadir dengan semangat baru, SE2026 akan mendata usaha yang lebih beragam serta metode lebih modern dan relevan dengan perkembangan zaman.

Secara umum, SE2026 akan memotret tiga topik yang kini menjadi tulang punggung transformasi ekonomi nasional, yakni ekonomi digital, kreatif, dan lingkungan.

Lewat SE2026, BPS akan menghasilkan berbagai indikator strategis mencakup jumlah usaha, tenaga kerja, pendapatan dan pengeluaran usaha/perusahaan, total nilai aset, tingkat keuntungan (operating profit margin), serta return on asset (RoA).

Data yang dihasilkan akan menjadi kompas kebijakan ekonomi yang mampu membantu pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat memahami letak potensi pertumbuhan dan aspek yang perlu diperkuat.

Baca juga: Hasilkan Data Akurat dan Efisien, BPS Hadirkan Inovasi dalam SE2026

Manfaat SE2026 bagi pemerintah dan pelaku usaha

Pemerintah dapat memanfaatkan data SE2026 sebagai dasar untuk menyusun perencanaan pembangunan yang lebih presisi. Dengan data yang akurat, kebijakan tidak lagi berdasar pada asumsi, melainkan potret di lapangan.

Misalnya, pemerintah daerah (pemda) menggunakan hasil sensus ekonomi untuk memahami sektor usaha paling potensial atau wilayah yang membutuhkan dorongan investasi baru.

Hasil SE2026 juga berguna untuk memantau ketimpangan pertumbuhan antarwilayah dan sektor usaha, sehingga pemerintah dapat segera mengoreksi arah pembangunan. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi akan berjalan cepat, inklusif, dan berkeadilan.

Sementara itu, SE2026 bagi pelaku usaha bukan sekadar kegiatan pendataan, tetapi sumber wawasan bisnis. Data sensus ekonomi membantu pengusaha melihat wilayah dengan tingkat keuntungan tinggi untuk menentukan lokasi ekspansi yang prospektif.

Baca juga: BPS Jateng Siap Gelar Sensus Ekonomi 2026, Fokus Tangkap Potensi Usaha dan Digitalisasi

Misalnya, informasi tentang sebaran hotel di kawasan wisata dapat menjadi acuan penting bagi investor yang ingin membangun akomodasi baru di daerah dengan fasilitas minim.

Data tentang aglomerasi usaha unggulan daerah juga akan membantu pelaku bisnis memahami peta kekuatan ekonomi lokal atau sektor yang tumbuh menonjol, seperti industri kreatif, makanan dan minuman, atau manufaktur.

Dengan memahami klaster usaha tersebut, pelaku bisnis dapat menjalin kolaborasi, memperluas jaringan rantai pasok, dan membangun kemitraan yang saling menguntungkan.

Hasil SE2026 juga menjadi fondasi penting bagi pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan pusat pertumbuhan baru.

Data tentang sebaran usaha, potensi bahan baku, serta peluang diversifikasi usaha dapat membantu pengelola kawasan merancang strategi pengembangan yang lebih adaptif dan efisien.

Baca juga: Awal Kuartal IV 2025, KEK Industropolis Batang Kantongi Investasi Rp 456,76 Miliar

Hadirkan kesejahteraan rakyat menuju Indonesia Maju

SE2026 bukan sekadar kegiatan statistik untuk menghitung jumlah perusahaan, melainkan investasi besar dalam pengetahuan ekonomi bangsa. Hal ini untuk memastikan pertumbuhan ekonomi menghadirkan kesejahteraan bagi semua lapisan masyarakat.

Keberadaan data yang akurat dan lengkap akan membantu pemerintah menyusun kebijakan ekonomi yang lebih tepat sasaran, baik dalam penciptaan lapangan kerja, stabilisasi harga, maupun penguatan peluang usaha rakyat.

Selain itu, pemerintah juga dipastikan dapat memahami dengan jelas letak potensi pertumbuhan ekonomi dan golongan yang masih tertinggal, untuk merancang program pemberdayaan yang lebih adil dan inklusif.

Baca juga: PR Pemerintah: Dongkrak Daya Beli Masyarakat untuk Pertumbuhan Ekonomi

Dengan kata lain, Indonesia membangun fondasi kokoh melalui SE2026 untuk memahami kehidupan ekonomi dari Sabang sampai Merauke, mulai dari pelaku usaha besar di kota hingga pedagang kecil di desa.

Setiap data yang dikumpulkan akan menjadi potret nyata tentang penggerak roda ekonomi, titik peluang pertumbuhan, dan tantangan yang harus diatasi bersama.

Dengan informasi yang lengkap dan terpercaya, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat bergerak dengan arah yang sama, yakni memperkuat ekonomi nasional sekaligus memastikan manfaat pembangunan dirasakan secara merata.

Melalui SE2026, Indonesia tidak hanya menghitung angka, tetapi menyiapkan langkah menuju masa depan yang menjadikan setiap data sebagai pijakan menuju kemajuan bersama.

Baca juga: Prabowo Ceritakan Interaksinya dengan Penumpang KRL soal Kemajuan Perkeretaapian

Terkini Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com