Menginap di Rumah Warga Keluarga Berisiko "Stunting", Menteri Wihaji Ingin Identifikasi Langsung Penyebab "Stunting"

Kompas.com - 05/12/2024, 14:23 WIB
Farida Farhan,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KARAWANG, KOMPAS.com - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Wihaji menginap di salah satu rumah warga di Kampung Cibogo, Dusun Kaum, Desa Mulyasari, Kecamatan Ciampel, Karawang, Jawa Barat, Rabu (4/12/2024).

Wihaji menginap bersama istri dan Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka.

Ia mengatakan, dirinya menginap di rumah keluarga berisiko stunting (KRS), salah satunya rumah Ade Wijaya, adalah untuk menyerap aspirasi di masyarakat bawah.

Menteri Wihaji ingin tahu kondisi sesungguhnya keluarga-keluarga di wilayah tertentu sehingga bisa identifiaksi langsung salah satu penyebab stunting.

"Arahan Presiden, jangan banyak diskusi, seminar, lokakarya, tetapi turun ke lapangan dan selesaikan masalah. Negara harus hadir di tengah masyarakat," ujar Wihaji, yang sebelumnya melakukan dialog dengan siswa SMA yang tergabung dalam Generasi Berencana (GenRe).

Baca juga: Risiko Stunting dan Gangguan Pertumbuhan pada Bayi Alergi Susu Sapi

Sebelum menginap, Menteri Wihaji dan wakil menteri juga berkunjung ke tiga rumah yang dihuni lansia dan juga tiga rumah yang dihuni KRS.

"Kami ingin tahu kondisi sesungguhnya di lapangan. Nanti kita carikan orang tua asuh untuk mereka," ujar Wihaji.

Dalam kunjungan itu, Wihaji juga menyerahkan bingkisan kepada lansia dan KRS yang dikunjungi. Ia juga membagikan mukena dan sarung di salah satu masjid.

Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting

Untuk diketahui, Menteri Wihaji bersama wakil menteri direncanakan akan meluncurkan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) untuk Satu Juta Anak Indoensia di Karawang, Kamis (5/12/2024).

Wihaji menjelaskan tentang konsep Orang Tua Asuh Cegah Stunting, Gerakan ini bisa dilaksanakan oleh perorangan, korporasi hingga badan usaha milik negara (BUMN).

BKKBN, kata Wihaji, mempunyai empat menu dalam gerakan ini. Pertama, menu berkategori Nutrisi dan Non-Nutrisi.

" Yang nutrisi berarti kita siapkan ibu hamil untuk 1.000 hari kehidupan. Maksudnya adalah silakan jadi orang tua asuh selama dua tahun, mulai dari ibu hamil sampai anak berusia dua tahun. Karena itu masa kritis potensi stunting atau keluarga risiko stunting," terang Wihaji.

Kedua, kata Wihaji, Menu Air Bersih. Artinya perusahaan atau perorangan dapat menyumbang air bersih. Pemerintah akan menyiapkan lokasi berikut kebutuhannya.

Baca juga: Cegah Stunting, Ratusan Siswa SD di Bogor Diajak Kenali Manfaat Minum Susu

Selain itu, ada juga perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH), sanitasi, dan jambanisasi. Sebab, salah satu penyebab stunting adalah rumah tidak punya sarana mandi cuci kakus (MCK) atau tidak punya jamban.

Adapun menu keempat ialah edukasi. Misalnya, kata Wihaji, ada yang ingin menjadi orang tua asuh, tetapi tidak bisa menyumbang uang, air, atau sanitasi. Maka pihak tersebut bisa melakukan edukasi.

"Nanti siapkan ibu-ibu, remaja, dan sebagainya untuk diedukasi. Jadi, ini orangnya, ini alamatnya, silakan diedukasi," ungkap Wihaji.

Terkini Lainnya
Menteri Wihaji Tinjau Program MBG dan Tamasya di Kepri, Tegaskan Komitmen Bangun Keluarga Sejahtera

Menteri Wihaji Tinjau Program MBG dan Tamasya di Kepri, Tegaskan Komitmen Bangun Keluarga Sejahtera

BKKBN
Fondasi Indonesia Emas 2045, Wamen Isyana Paparkan Strategi Prabowo-Gibran Bangun SDM Unggul di Forum Global

Fondasi Indonesia Emas 2045, Wamen Isyana Paparkan Strategi Prabowo-Gibran Bangun SDM Unggul di Forum Global

BKKBN
Bukan Sekadar Alat, Kontrasepsi Adalah Gerbang Menuju Indonesia Emas 2045

Bukan Sekadar Alat, Kontrasepsi Adalah Gerbang Menuju Indonesia Emas 2045

BKKBN
Young Health Summit 2025, BKKBN Tekankan Pentingnya Remaja Sehat Mental dan Fisik

Young Health Summit 2025, BKKBN Tekankan Pentingnya Remaja Sehat Mental dan Fisik

BKKBN
Peringati Harganas Ke-32, BKKBN Hadirkan Kirab Bangga Kencana

Peringati Harganas Ke-32, BKKBN Hadirkan Kirab Bangga Kencana

BKKBN
Sambut Harganas, BKKBN Targetkan 1 Juta Akseptor dalam Pelayanan KB Serentak se-Indonesia

Sambut Harganas, BKKBN Targetkan 1 Juta Akseptor dalam Pelayanan KB Serentak se-Indonesia

BKKBN
Kemendukbangga Susun Peta Jalan Pembangunan Kependudukan, Konsorsium Perguruan Tinggi Deklarasikan Dukungan

Kemendukbangga Susun Peta Jalan Pembangunan Kependudukan, Konsorsium Perguruan Tinggi Deklarasikan Dukungan

BKKBN
 Bantu Perempuan Tetap Produktif Usai Punya Anak, Kemendukbangga Luncurkan Program Tamasya

Bantu Perempuan Tetap Produktif Usai Punya Anak, Kemendukbangga Luncurkan Program Tamasya

BKKBN
Hadapi Fase Krusial Bonus Demografi, Kemendukbangga: Pembangunan Manusia Indonesia Dimulai dari Keluarga

Hadapi Fase Krusial Bonus Demografi, Kemendukbangga: Pembangunan Manusia Indonesia Dimulai dari Keluarga

BKKBN
Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi, BKKBN Canangkan Pelayanan KB Serentak 1 Juta Akseptor

Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi, BKKBN Canangkan Pelayanan KB Serentak 1 Juta Akseptor

BKKBN
Tingkatkan Peran Ayah dalam Keluarga, Menteri Wihaji Luncurkan Program GATI

Tingkatkan Peran Ayah dalam Keluarga, Menteri Wihaji Luncurkan Program GATI

BKKBN
Kemendukbangga/BKKBN Resmi Gelar Pelatihan Teknis Substantif Kampung Keluarga Berkualitas 2025

Kemendukbangga/BKKBN Resmi Gelar Pelatihan Teknis Substantif Kampung Keluarga Berkualitas 2025

BKKBN
Tinjau SPPG di Bogor, Wamendukbangga Tegaskan Pentingnya Program MBG untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045

Tinjau SPPG di Bogor, Wamendukbangga Tegaskan Pentingnya Program MBG untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045

BKKBN
Wamen Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Monitor Program Genting di Tanah Papua

Wamen Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Monitor Program Genting di Tanah Papua

BKKBN
Menteri Wihaji Kunjungi Bangli, Pantau Langsung Keluarga Risiko Stunting

Menteri Wihaji Kunjungi Bangli, Pantau Langsung Keluarga Risiko Stunting

BKKBN
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com