Kepala BKKBN Beberkan Strategi Percepatan Penurunan Stunting yang Fokus pada 3 Pendekatan 

Kompas.com - 26/03/2024, 15:28 WIB
DWN,
A P Sari

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dokter Hasto menjelaskan bahwa intervensi terhadap Percepatan Penurunan Stunting (PPS) dapat disederhanakan menjadi tiga pendekatan utama.

Tiga pendekatan tersebut adalah makanan, ukuran ideal badan, dan kahanan atau keadaan, seperti lingkungan, sanitasi, jamban, hingga rumah.

"Ada yang sudah dikasih jamban tapi masih ada yang rutin buang air besar (BAB) di sungai yang bisa menyebabkan diare. Kemudian ada yang menderita tuberkulosis (TBC), karena rumahnya kumuh, jendelanya tidak ada, tidak ada sirkulasi udara,” ujar Dokter Hasto dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (26/3/2024).

Pernyataan tersebut disampaikan Dokter Hasto saat melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Semarang, Jawa Tengah (Jateng), dalam rangka memberikan arahan pada Kegiatan Temu Kader Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) di Sasana Widya Praja, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Jateng, Semarang, Senin (25/3/2024).

Baca juga: Olivia Allan Tak Mau Perutnya Dilihat Selama Hamil, Denny Sumargo: Aneh Banget

Dalam pertemuan tersebut, ia juga menyampaikan bahwa batas hamil adalah 35 tahun dan usia ideal untuk menikah adalah 25 tahun untuk laki-laki dan 21 tahun untuk perempuan.

"Mengapa usia 35 tahun maksimal untuk hamil? Karena pada dasarnya manusia dari lemah dikuatkan, dari kuat dilemahkan. Puncaknya ada di umur 32 tahun. Sejak umur 32 tahun kita sudah mulai menua. Sejak usia 32 tahun sudah mulai keropos tulang-tulangnya," ucap Dokter Hasto.

Dalam konteks makanan, ia menekankan pentingnya asupan protein hewani dalam program PPS bagi ibu hamil dan bayi di bawah lima tahun (balita).

Sebagai contoh, ia merekomendasikan konsumsi lele karena mengandung lemak yang kaya akan DHA Omega 3, yang dikenal dapat meningkatkan kecerdasan otak.

Baca juga: Manfaat Minum Susu buat Anak-anak, Kecerdasan Otak dan 6 Lainnya

"(Makanan) yang membuat otak cerdas adalah (mengandung) DHA Omega 3," ujar Dokter Hasto.

Ia juga menyarankan bahwa jika seorang ibu hamil mengalami kekurangan darah, mereka harus mengonsumsi tablet tambah darah (TTD).

Namun, Dokter Hasto menegaskan bahwa sebaiknya tidak mengonsumsi TTD dengan air teh, karena teh dapat mengurangi penyerapan tablet tambah darah tersebut.

"Apabila ibu hamil kekurangan darah atau anemia maka plasentanya (akan terjadi) penipisan dan anak kekurangan gizi. Sehingga ukuran tubuh bayi menjadi kecil dan berpotensi terkena kekerdilan atau stunting," tuturnya.

Baca juga: Perlu Integrasi Penanganan TBC dan Stunting pada Anak

Apresiasi kepada PPKBD dan Sub-PPKBD

Sebelumnya, Dokter Hasto mengucapkan terima kasih kepada semua kader yang telah gigih berjuang dan selalu semangat dalam mencapai keberhasilan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) serta PPS.

"Kehadiran semua bapak dan ibu hari ini adalah bukti nyata bahwa kita menghargai betapa pentingnya peran kalian dalam mencapai keberhasilan program ini. Meskipun tidak mendapat gaji, semangat kalian luar biasa," ucapnya.

Dokter Hasto menyebut bahwa kerja keras para kader kalian telah menghasilkan dampak positif yang signifikan.

“Hal ini terbukti dengan berhasil diturunkannya angka kelahiran menjadi 2,16 dan angka prevalensi stunting sebesar 21,6 pada 2022. Hasil ini merupakan kerja sama antara pemerintah pusat, daerah, dan mitra kerja," imbuhnya.

Baca juga: 3 Faktor Internal yang Memengaruhi Terjadinya Perubahan Sosial

Menurut Dokter Hasto, hasil tersebut menunjukkan bahwa kader PPKBD dan sub-PPKBD merupakan tulang punggung dalam menciptakan perubahan sosial yang signifikan melalui upaya yang telah dilakukan.

"Stigma dan mitos terhadap program Bangga Kencana dan PPS telah berhasil diluruskan, dan akses terhadap layanan kesehatan harus semakin ditingkatkan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat," tuturnya.

Dokter Hasto juga menjelaskan bahwa saat ini BKKBN menerapkan sistem informasi yang lebih modern dan akuntabel melalui aplikasi Sistem Informasi Keluarga (Siga).

Siga berfungsi sebagai data operasional bagi petugas KB dan pihak terkait dalam melakukan intervensi terhadap program BKKBN, terutama program Bangga Kencana.

Baca juga: Kepala BKKBN Minta Kepala Perwakilan BKKBN NTT Berkolaborasi Majukan Program Bangga Kencana

"Siga menjadi penting karena sudah ditetapkan menjadi satu data keluarga. Siga ini sangat berhasil diimplementasikan di Jateng karena kinerja PPKBD dan sub-PPKBD di sana luar biasa," ucap Dokter Hasto.

Penurunan stunting cukup berat

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jateng Sumarno mengakui bahwa progres percepatan penurunan stunting cukup berat, terutama dalam mengubah pola hidup masyarakat.

“Kurangnya edukasi kepada masyarakat saya kira, makanya keberadaan perkumpulan keluarga berencana ini sangat penting sebagai ujung tombak,” katanya.

Dalam acara tersebut, juga diserahkan donasi senilai Rp 77 juta untuk korban banjir di enam kabupaten/kota, termasuk Pekalongan, Kota Semarang, Kabupaten Demak, Kabupaten Kudus, dan Kabupaten Pati.

Baca juga: Daftar Lengkap Mutasi dan Rotasi Terbaru 52 Pati TNI, Kepala RSPAD dan Kabais TNI Diganti

Sebagai informasi, kegiatan tersebut juga dihadiri Deputi Bidang Advokasi Penggerakan dan Informasi BKKBN (ADPIN), Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Provinsi Jateng, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jateng, Kepala Dinas (Kadin) Perempuan dan Anak, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes), Kepala Biro Kesra Sekretariat Daerah (Setda) Provinsi Jateng.

Selain itu, hadir pula Ketua Perkumpulan Kader Keluarga Berencana (KB) Provinsi Jateng, Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jateng, Direktur Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) BKKBN,  Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Penggerakan Lini Lapangan BKKBN, para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) KB kabupaten/kota, para kader PPKBD dan Sub-PPKBD se-Jateng.

Terkini Lainnya
Menteri Wihaji Tinjau Program MBG dan Tamasya di Kepri, Tegaskan Komitmen Bangun Keluarga Sejahtera

Menteri Wihaji Tinjau Program MBG dan Tamasya di Kepri, Tegaskan Komitmen Bangun Keluarga Sejahtera

BKKBN
Fondasi Indonesia Emas 2045, Wamen Isyana Paparkan Strategi Prabowo-Gibran Bangun SDM Unggul di Forum Global

Fondasi Indonesia Emas 2045, Wamen Isyana Paparkan Strategi Prabowo-Gibran Bangun SDM Unggul di Forum Global

BKKBN
Bukan Sekadar Alat, Kontrasepsi Adalah Gerbang Menuju Indonesia Emas 2045

Bukan Sekadar Alat, Kontrasepsi Adalah Gerbang Menuju Indonesia Emas 2045

BKKBN
Young Health Summit 2025, BKKBN Tekankan Pentingnya Remaja Sehat Mental dan Fisik

Young Health Summit 2025, BKKBN Tekankan Pentingnya Remaja Sehat Mental dan Fisik

BKKBN
Peringati Harganas Ke-32, BKKBN Hadirkan Kirab Bangga Kencana

Peringati Harganas Ke-32, BKKBN Hadirkan Kirab Bangga Kencana

BKKBN
Sambut Harganas, BKKBN Targetkan 1 Juta Akseptor dalam Pelayanan KB Serentak se-Indonesia

Sambut Harganas, BKKBN Targetkan 1 Juta Akseptor dalam Pelayanan KB Serentak se-Indonesia

BKKBN
Kemendukbangga Susun Peta Jalan Pembangunan Kependudukan, Konsorsium Perguruan Tinggi Deklarasikan Dukungan

Kemendukbangga Susun Peta Jalan Pembangunan Kependudukan, Konsorsium Perguruan Tinggi Deklarasikan Dukungan

BKKBN
 Bantu Perempuan Tetap Produktif Usai Punya Anak, Kemendukbangga Luncurkan Program Tamasya

Bantu Perempuan Tetap Produktif Usai Punya Anak, Kemendukbangga Luncurkan Program Tamasya

BKKBN
Hadapi Fase Krusial Bonus Demografi, Kemendukbangga: Pembangunan Manusia Indonesia Dimulai dari Keluarga

Hadapi Fase Krusial Bonus Demografi, Kemendukbangga: Pembangunan Manusia Indonesia Dimulai dari Keluarga

BKKBN
Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi, BKKBN Canangkan Pelayanan KB Serentak 1 Juta Akseptor

Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi, BKKBN Canangkan Pelayanan KB Serentak 1 Juta Akseptor

BKKBN
Tingkatkan Peran Ayah dalam Keluarga, Menteri Wihaji Luncurkan Program GATI

Tingkatkan Peran Ayah dalam Keluarga, Menteri Wihaji Luncurkan Program GATI

BKKBN
Kemendukbangga/BKKBN Resmi Gelar Pelatihan Teknis Substantif Kampung Keluarga Berkualitas 2025

Kemendukbangga/BKKBN Resmi Gelar Pelatihan Teknis Substantif Kampung Keluarga Berkualitas 2025

BKKBN
Tinjau SPPG di Bogor, Wamendukbangga Tegaskan Pentingnya Program MBG untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045

Tinjau SPPG di Bogor, Wamendukbangga Tegaskan Pentingnya Program MBG untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045

BKKBN
Wamen Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Monitor Program Genting di Tanah Papua

Wamen Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Monitor Program Genting di Tanah Papua

BKKBN
Menteri Wihaji Kunjungi Bangli, Pantau Langsung Keluarga Risiko Stunting

Menteri Wihaji Kunjungi Bangli, Pantau Langsung Keluarga Risiko Stunting

BKKBN
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com