Cegah Kelahiran Bayi Stunting, Kepala BKKBN: Ibu Hamil Harus Dikawal sejak Mengandung 

Kompas.com - 06/03/2024, 16:40 WIB
DWN,
A P Sari

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dokter Hasto menegaskan pentingnya merencanakan kehamilan untuk memastikan kelahiran bayi yang sehat dan tidak mengalami stunting.

Salah satu langkahnya adalah dengan mengatur jarak antara kelahiran anak-anak. Menurutnya, mengatur jarak kelahiran agar tidak terlalu dekat adalah salah satu cara untuk mencegah stunting pada anak-anak, yang dapat dilakukan melalui program Keluarga Berencana (KB).

"Ini (ibu hamil) harus dikawal mulai dari (sejak) masa kandungan (mereka mengandung)," kata Dokter Hasto dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (6/3/2024).

Pernyataan tersebut disampaikan Dokter Hasto dalam kegiatan Sosialisasi dan Pelayanan KB di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kerang, Desa Kerang, Kecamatan Batu Engau, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur (Kaltim), Selasa (5/3/2024).

Baca juga: Deretan Kursi Menteri Era Jokowi yang Paling Sering Jadi Sasaran Reshuffle

Sebagai informasi, Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo (Jokowi) melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting telah menargetkan angka penurunan stunting nasional menjadi 14 persen pada 2024.

Dalam acara tersebut, Dokter Hasto memberikan apresiasi kepada remaja putri yang bersemangat mengikuti program minum tablet tambah darah sebagai langkah antisipasi terhadap risiko melahirkan anak yang mengalami stunting ketika menikah.

Di bagian lain pidatonya, Dokter Hasto mengungkapkan bahwa intensifikasi dan integrasi pelayanan KB dan kesehatan reproduksi di wilayah perbatasan menjadi salah satu Program Prioritas Nasional (Pro PN).

Baca juga: Soal 8 Kegiatan Prioritas Nasional, Kepala LAN: Apresiasi untuk Semua Stakeholder

Mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, Dokter Hasto menyatakan bahwa BKKBN mendukung dua agenda pembangunan atau prioritas nasional, yakni peningkatan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing, serta revolusi mental dan pembangunan kebudayaan.

Dalam konteks tersebut, BKKBN semakin mendorong peningkatan penggunaan kontrasepsi, terutama metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP), sebagai upaya untuk menekan angka drop out pengguna.

Intensifikasi dan integrasi pelayanan KB

Bertolak dari upaya BKKBN, perwakilan BKKBN Provinsi Kaltim menggelar kegiatan intensifikasi dan integrasi pelayanan KB dan kesehatan reproduksi pada Senin (4/3/2024) hingga Senin (5/3/2024).

Baca juga: KB Setelah Persalinan Berperan Penting Cegah Stunting

Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan akses pelayanan, terutama di wilayah perbatasan antara Provinsi Kaltim dan Kalimantan Selatan (Kalsel). Kegiatan ini dilaksanakan di RSUD Kerang, Desa Kerang, Kecamatan Batu Engau, Kabupaten Paser.

Sebelum pelaksanaan sosialisasi dan pelayanan KB, BKKBN Kaltim mengadakan kegiatan "Nonton Bareng dengan Mupen", yaitu menggunakan Mobil Unit Penerangan (Mupen) milik BKKBN.

Acara tersebut bertujuan untuk melakukan promosi dan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat di Sengayam, Kota Baru, yang berlangsung pada Senin (4/3/2024).

Kegiatan tersebut disambut antusias oleh masyarakat sekitar. Selain itu, juga diadakan pemeriksaan ultrasonografi (USG) bagi ibu hamil. Seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Perwakilan BKKBN Kaltim dan Kalsel.

Baca juga: Kolaborasi Budaya: Pengertian dan Contohnya

Sementara itu, Penjabat (Pj) Gubernur Kaltim Akmal Malik mengingatkan agar pelayanan kesehatan di wilayah perbatasan tidak dibatasi oleh administrasi meskipun berada di provinsi yang berbeda.

"Mari kita saling berkolaborasi untuk mempercepat kesuksesan program ini," katanya.

Akmal juga menyampaikan kekagumannya terhadap Kepala BKKBN Dokter Hasto yang memiliki latar belakang sebagai dokter dan pernah menjabat sebagai Bupati Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

"Banyak program Dokter Hasto yang menginspirasi dan secara langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, utamanya yang berkaitan dengan pemberdayaan keluarga dan penanggulangan stunting," jelasnya.

Terkini Lainnya
Menteri Wihaji Tinjau Program MBG dan Tamasya di Kepri, Tegaskan Komitmen Bangun Keluarga Sejahtera

Menteri Wihaji Tinjau Program MBG dan Tamasya di Kepri, Tegaskan Komitmen Bangun Keluarga Sejahtera

BKKBN
Fondasi Indonesia Emas 2045, Wamen Isyana Paparkan Strategi Prabowo-Gibran Bangun SDM Unggul di Forum Global

Fondasi Indonesia Emas 2045, Wamen Isyana Paparkan Strategi Prabowo-Gibran Bangun SDM Unggul di Forum Global

BKKBN
Bukan Sekadar Alat, Kontrasepsi Adalah Gerbang Menuju Indonesia Emas 2045

Bukan Sekadar Alat, Kontrasepsi Adalah Gerbang Menuju Indonesia Emas 2045

BKKBN
Young Health Summit 2025, BKKBN Tekankan Pentingnya Remaja Sehat Mental dan Fisik

Young Health Summit 2025, BKKBN Tekankan Pentingnya Remaja Sehat Mental dan Fisik

BKKBN
Peringati Harganas Ke-32, BKKBN Hadirkan Kirab Bangga Kencana

Peringati Harganas Ke-32, BKKBN Hadirkan Kirab Bangga Kencana

BKKBN
Sambut Harganas, BKKBN Targetkan 1 Juta Akseptor dalam Pelayanan KB Serentak se-Indonesia

Sambut Harganas, BKKBN Targetkan 1 Juta Akseptor dalam Pelayanan KB Serentak se-Indonesia

BKKBN
Kemendukbangga Susun Peta Jalan Pembangunan Kependudukan, Konsorsium Perguruan Tinggi Deklarasikan Dukungan

Kemendukbangga Susun Peta Jalan Pembangunan Kependudukan, Konsorsium Perguruan Tinggi Deklarasikan Dukungan

BKKBN
 Bantu Perempuan Tetap Produktif Usai Punya Anak, Kemendukbangga Luncurkan Program Tamasya

Bantu Perempuan Tetap Produktif Usai Punya Anak, Kemendukbangga Luncurkan Program Tamasya

BKKBN
Hadapi Fase Krusial Bonus Demografi, Kemendukbangga: Pembangunan Manusia Indonesia Dimulai dari Keluarga

Hadapi Fase Krusial Bonus Demografi, Kemendukbangga: Pembangunan Manusia Indonesia Dimulai dari Keluarga

BKKBN
Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi, BKKBN Canangkan Pelayanan KB Serentak 1 Juta Akseptor

Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi, BKKBN Canangkan Pelayanan KB Serentak 1 Juta Akseptor

BKKBN
Tingkatkan Peran Ayah dalam Keluarga, Menteri Wihaji Luncurkan Program GATI

Tingkatkan Peran Ayah dalam Keluarga, Menteri Wihaji Luncurkan Program GATI

BKKBN
Kemendukbangga/BKKBN Resmi Gelar Pelatihan Teknis Substantif Kampung Keluarga Berkualitas 2025

Kemendukbangga/BKKBN Resmi Gelar Pelatihan Teknis Substantif Kampung Keluarga Berkualitas 2025

BKKBN
Tinjau SPPG di Bogor, Wamendukbangga Tegaskan Pentingnya Program MBG untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045

Tinjau SPPG di Bogor, Wamendukbangga Tegaskan Pentingnya Program MBG untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045

BKKBN
Wamen Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Monitor Program Genting di Tanah Papua

Wamen Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Monitor Program Genting di Tanah Papua

BKKBN
Menteri Wihaji Kunjungi Bangli, Pantau Langsung Keluarga Risiko Stunting

Menteri Wihaji Kunjungi Bangli, Pantau Langsung Keluarga Risiko Stunting

BKKBN
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com