Kerja Sama dengan Perusahaan Jepang, Batan Siapkan SDM

Inang Jalaludin Shofihara
Kompas.com - Rabu, 11 Desember 2019
Batan dan Kaken bekerja sama dengan meandatanganani naskah kerja sama di Mito, Jepang, Selasa (03/12/2019).DOK. Humas Badan Tenaga Nuklir Nasional Batan dan Kaken bekerja sama dengan meandatanganani naskah kerja sama di Mito, Jepang, Selasa (03/12/2019).

KOMPAS.com – Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) melalui Pusat Teknologi Radioisotop dan Radiofarmaka (PTRR) akan meningkatkan penguasaan teknologi produksi radioisotop dan radiofarmaka melalui kerja sama dengan salah satu lembaga riset Jepang, Kaken.

Kerja sama tersebut diwujudkan dengan penandatanganan naskah kerja sama kedua belah pihak di Mito, Jepang, Selasa (03/12/2019).

Kepala PTRR Rohadi Awaludin menjelaskan, untuk melaksanakan kerja sama tersebut, PTRR dan Pusat Reaktor Serba Guna (PRSG) telah mempersiapkan diri.

PTRR akan menyiapkan fasilitas laboratotium dan sumber daya manusia (SDM), khususnya yang muda dalam pelaksanaan kerja sama tersebut.

"Penelitian bersama akan banyak dilakukan di Batan dengan memanfaatkan fasilitas produksi radioisotop PTRR dan reaktor nuklir GA Siwabessy,” ujar Rohadi seperti keterangan tertulis yang diterima Kompas.com.

Baca juga: Berusia 61 Tahun, Ini capaian Batan untuk Indonesia

Dia menambahkan, melalui penelitian bersama ini, PTRR dapat meningkatkan kapasitas SDM karena penelitian banyak dilaksanakan di PTRR.

Rohadi pun berharap kerja sama ini dapat meningkatkan penguasaan teknologi dalam rangka menyempurnakan teknologi yang telah dikuasai.

Tak hanya itu, manfaat nyata dari hasil kerja sama ini juga diharapkan dapat segera dirasakan oleh masyarakat.

Selain itu, untuk persiapan utama kerja sama ini, PRSG akan menyiapkan fasilitas iradiasi netron di PRSG untuk iradiasi molibdenum alam.

Kerja sama produksi molibdenum alam

Rohadi juga mengatakan kerja sama ini merupakan pengembangan generasi baru teknologi produksi radioisotop Teknesium-99m (Tc-99m).

Teknologi produksi radioisotop Tc-99m merupakan radioisotop medis yang saat ini paling banyak dimanfaatkan dalam diagnosis di kedokteran nuklir.

Baca juga: Batan Kuasai Teknologi Pendeteksi Polutan Udara Berukuran Mikrometer

Dia menuturkan, saat ini Tc-99m masih diproduksi menggunakan molibdenum-99 (Mo-99) hasil fisi dari uranium.

“Teknologi ini masih menyisakan beberapa tantangan, di antaranya besarnya limbah radioaktif hasil fisi (radioactive fission waste) yang dihasilkan," ungkap Rohadi.

Terkait hal itu, kedua pihak pun mengembangkan teknologi baru yang menggunakan molibdenum alam untuk memproduksi Mo-99 sehingga tidak menggunakan uranium lagi.

Hasilnya, limbah radioaktif yang dihasilkan pun sangat kecil dan bukan radioactive fission waste (RFW).

Awal dan kelanjutan kerja sama

Lebih lanjut Rohadi menuturkan kerja sama antar kedua institusi ini terjalin berawal dari adanya kesamaan pandangan terkait teknologi produksi radioisotop dan radiofarmaka.

Baca juga: Batan: Soal Rencana Pendirian PLTN, Tinggal Komitmen Pemerintah

Menurutnya, kedua teknologi tersebut terus berkembang dan pemanfaatannya terus mengalami peningkatan, termasuk di Jepang dan di Indonesia.

Terkait mitra kerjanya, Rohadi mengatakan Kaken adalah perusahaan Jepang yang bergerak di bidang riset dan komersialisasi hasil riset, khususnya riset kimia.

"Kaken tersusun dari 2 huruf kanji ka yang berarti kimia dan ken yang berarti riset. Termasuk di dalamnya adalah riset di bidang radioisotop," ujar Rohadi.

Kerja sama tersebut akan dimulai pada 2020 dan dilakukan dalam bentuk penelitian bersama serta berakhir pada 5 tahun mendatang.

Dia pun menuturkan, luasnya jejaring kerja sama ini diharapkan dapat mempercepat penguasaan dan pendayagunaan teknologi radioisotop dan radiofarmaka di PTRR.

“Tidak hanya teknologi radioisotop Teknesium-99m, namun juga teknologi teknologi radioisotop dan radiofarmaka lain yang saat ini sedang dikembangkan di PTRR," harapnya.

Pada kesemapatan yang sama, Batan juga melangsungkan penandatanganan naskah kerja sama dengan Nippon Advanced Information Service (NAIS), Jepang.

Baca juga: BATAN Luncurkan Wisata Teknologi Nuklir di Bandung

NAIS merupakan perusahaan teknologi di Jepang yang bergerak di bidang keselamatan nuklir dan radiasi, khususnya dalam pemanfaatan teknologi informasi di bidang keselamatan nuklir dan radiasi.

"NAIS akan membantu dalam analisis keselamatan, khususnya dalam Iradiasi netron terhadap molibdenum alam di RSG,”ujarnya.

Sebab, lanjut Rohadi, kegiatan ini direncanakan akan memakai Iradiasi molibdenum alam dalam jumlah besar, maka diperlukan analisis keselamatan terhadap Iradiasi mo dalam jumlah besar.

PenulisInang Jalaludin Shofihara
EditorMikhael Gewati
Terkini Lainnya
Batan Targetkan Pengembangan Sistem Pemantauan Zat Radioaktif Rampung 2022
Batan Targetkan Pengembangan Sistem Pemantauan Zat Radioaktif Rampung 2022
Badan Tenaga Nuklir Nasional
Kerja Sama dengan Perusahaan Jepang, Batan Siapkan SDM
Kerja Sama dengan Perusahaan Jepang, Batan Siapkan SDM
Badan Tenaga Nuklir Nasional
Berusia 61 Tahun, Ini Capaian Batan untuk Indonesia
Berusia 61 Tahun, Ini Capaian Batan untuk Indonesia
Badan Tenaga Nuklir Nasional