Melestarikan Naskah Batak Lewat Festival Naskah Nusantara 2019

Anissa Dea Widiarini
Kompas.com - Senin, 19 Agustus 2019
Festival Naskah Nusantara V diselenggarakan di Geosite Sipinsur, Humbang Hasundutan, Sumatera UtaraDok. Humas Perpustakaan Nasional Festival Naskah Nusantara V diselenggarakan di Geosite Sipinsur, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara


KOMPAS.com - Sebagai salah satu suku di Indonesia, Batak memiliki banyak budaya peninggalan para leluhur, termasuk tradisi pernaskahan.

“Banyak filosofi naskah Batak yang bisa dieksplorasi mendalam sebagai kearifan lokal suku Batak," ujar Deputi Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpustakaan Nasional ( Perpusnas) Ofy Sofiana, dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (19/8/2019).

Perpustakan Nasional (Perpusnas), lanjut Ofy, menyimpan sedikitnya 200 naskah kuno Batak. Sebagian ada yang sudah dialihmediakan ke dalam bentuk digital dan bisa diakses melalui situs milik Perpusnas.

Sayangnya, tradisi pernaskahan tersebut kurang diminati anak muda. Bahkan, tradisi ini terancam punah.

Baca juga: Naskah Kuno Ulama Indonesia Berusia Ratusan Tahun Rawan Diperdagangkan

Untuk mencegah hal itu, Kabupaten Humbang Hasundutan secara pro aktif melestarikan peninggalan budaya Batak kuno.

"Ada tiga aspek yang bisa dilakukan agar tidak punah, yaitu aspek perlindungan, pelestarian, dan pemanfaatan," ucap Bupati Humbang Hasundutan Dosmar Banjarnaho.

Menurut Dosmar, diperlukan komitmen bersama agar naskah-naskah kuno itu tetap lestari dan bermanfaat. Artinya, tidak hanya Perpusnas saja yang bertanggung jawab, tapi juga melibatkan masyarakat luas.

Dia menambahkan, ribuan naskah kuno milik suku Batak tersimpan baik di perpustakaan, museum, atau perorangan. Bahkan, ada yang tersebar di luar negeri.

Baca juga: Lestarikan Sejarah, LIPI Digitalisasi Naskah Kuno Selama 17 Tahun

Untuk melestarikan sekaligus mengenalkan naskah kuno Batak ke masyarakat, Perpusnas bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyelenggarakan Festival Naskah Nusantara (FNN) V di Geosite Sipinsur, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.

Dipilihnya Geosite Sipinsur sebagai lokasi festival bertujuan untuk mengenalkan lokasi tersebut sebagai daerah wisata baru di Indonesia.

Festival yang berlangsung sejak 19-23 Agustus 2019 itu, menargetkan angka kunjungan hingga 5.000 orang.

Terdapat beragam di FFN V, seperti pameran naskah Nusantara yang bekerjasama dengan Pemprov Sumatera Utara, workshop penulisan aksara Batak, penulisan naskah Bali, Bugis, Jawi, dan kaligrafi, serta pembuatan wayang beber.

Ada juga Seminar Naskah dengan narasumber filolog internasional Uli Kozok, Rektor Universitas Sumatera Utara Medan Robert Sibarani, Monang Naipospos, Jakmen Sinulingga, dan Lidya Christina. (Hartoyo Darmawan/Perpusnas)

PenulisAnissa Dea Widiarini
EditorMikhael Gewati
Terkini Lainnya
Pustakawan Ahli Utama Jelaskan Pentingnya Data untuk Perpustakaan
Pustakawan Ahli Utama Jelaskan Pentingnya Data untuk Perpustakaan
Perpustakaan dan Kepustakawanan
Soft Skill Jadi Bekal Pustakawan Hadapi Disrupsi Revolusi Industri 4.0
Soft Skill Jadi Bekal Pustakawan Hadapi Disrupsi Revolusi Industri 4.0
Perpustakaan dan Kepustakawanan