Generasi Pertama Literasi Air Ala Tanoker Ledokombo, Jakfar yang Melatih Public Speaking

Kompas.com - 11/08/2025, 22:24 WIB
Mega Silvia,
Bilal Ramadhan

Tim Redaksi

JEMBER, KOMPAS.com - Tanoker Ledokombo bak taman bermain bagi anak-anak di Jember Utara, rumah kedua yang tak pernah sepi dikunjungi.

Melihat kolam renang di Tanoker Ledokombo membuat ingatan Muhammad Jakfar, M Faisal Subakti, Muhammad Mukhlas, Muhammad Abidzar Alghifari, Andrean Budiansyah terlempar ke masa lalu.

Mereka adalah generasi pertama yang melakukan literasi air yang digagas Farha Ciciek dan Supoharjo.

Saat kolam renang masih ada satu dan berukuran snagat mini, 4x4 meter.

Kebetulan Sabtu (9/8/2025) sore itu mereka tengah bercengkrama di gazebo Tanoker, tepat mata memandang adalah kolam renang yang dulu saat kecilnya belum ada.

Muhammad Jakfar yang kini berusia 25 tahun, rumahnya berada di depan Tanoker, adalah saksi hidup bagaimana literasi air itu berjalan.

Kala itu, 2010, ia masih duduk di kelas 4 SDN Sumberlesung 1, Kecamatan Ledokombo saat Tanoker berdiri dan kolam renang kecil itu ada.

"Pulang sekolah sering ke Tanoker, kalau jam olahraga di sekolah juga kadang diajak renang ke sana," tutur Jakfar.

Baca juga: Bripka Sumantri, Polisi Perpustakaan Keliling di Ujung Selatan Nusantara

Ia tak suka membaca, tapi besarnya keinginan untuk berenang membuatnya melaluinya.

Buku dongeng hingga ensiklopedia dibaca.

Kepada pendamping, ia enceritakan ulang apa yang ada di dalam buku itu.

Saking seringnya mengulang kegiatan itu, public speaking Jakfar jadi terlatih.

"Kepakai sampai sekarang, saya jadi berani ngomong depan orang sejak masuk pesantren saat SMP," ungkapnya.

Tanoker sangat lekat dalam ingatannya. Kenangan masa kecilnya diwarnai dengan buku dan kehangatan kebersamaan dengan kawan sejawatnya saat berenang.

"Kalau lihat anak-anak lain di Tanoker jadi ingat yang dulu, rasanya nostalgia," kenangnya.

Baca juga: Perpustakaan Inklusi di Manggarai Timur NTT, Ruang Hidup Inspiratif

Kenangannya dengan Tanoker juga kala ia kerap diajak ke berbagai daerah untuk mengikuti acara egrang.

M Faisal Subakti pun mengatakan demikian. Ia kini berusia 27 tahun dan sudah memiliki anak laki-laki berusia 2 tahun.

Ketika itu, ia memilih komik One Piece untuk dibaca.

Di perpustakaan Tanoker memang tersedia berbagai jenis buku, komik sekalipun.

"Dulu pas kelas 5 SD diajak teman, kalau pulang sekolah sering renang ke Tanoker," kata pemuda yang kini jadi berwirausaha.

Baca juga: Sulitnya Hidupkan Perpustakaan Desa

Dari kebiasaannya bermain ke Tanoker, ia juga mendapatkan pelajaran tentang banyak hal, seperti bermain egrang.

Festival egrang yang digelar Tanoker setahun sekali menjadi ajang yang pernah membuatnya mengukir prestasi.

Faisal pernah menjadi juara 2 egrang kayu se Kecamatan Ledokombo, sebuah pencapaian berarti dalam hidupnya.

Selain mengembangkan literasi air lewat taman baca masyarakat (TBM), Tanoker juga punya festival tahunannya yang terkenal bahkan sampai tingkat internasioanl, festival egrang.

Buku, kolam, renang, dan egrang menjadi sarana belajar serta bermain untuk memberikan akses terhadap hak-hak anak.

Terkini Lainnya
Kisah Pustakawan Spesialis Buku Kritis di Bengkulu, Kagumi Jim Morrison hingga Nietzsche

Kisah Pustakawan Spesialis Buku Kritis di Bengkulu, Kagumi Jim Morrison hingga Nietzsche

Perpustakaan dan Kepustakawanan
Generasi Pertama Literasi Air Ala Tanoker Ledokombo, Jakfar yang Melatih Public Speaking

Generasi Pertama Literasi Air Ala Tanoker Ledokombo, Jakfar yang Melatih Public Speaking

Perpustakaan dan Kepustakawanan
Pustakawan Ahli Utama Jelaskan Pentingnya Data untuk Perpustakaan

Pustakawan Ahli Utama Jelaskan Pentingnya Data untuk Perpustakaan

Perpustakaan dan Kepustakawanan
Soft Skill Jadi Bekal Pustakawan Hadapi Disrupsi Revolusi Industri 4.0

Soft Skill Jadi Bekal Pustakawan Hadapi Disrupsi Revolusi Industri 4.0

Perpustakaan dan Kepustakawanan
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com