Informasi Digital Semakin Diminati, Keberadaan Buku Akan Hilang?

Kompas.com - 09/07/2019, 13:48 WIB
Mico Desrianto,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com — Wakil Presiden Frankfurt Book Fair (FBF) Claudia Kaiser menyebut saat ini penjualan buku di dunia tengah mengalami penurunan.

Hal tersebut menurutnya diakibatkan kecenderungan pembaca di zaman sekarang yang lebih menyukai aplikasi digital dalam mengonsumsi informasi.

“Data menunjukkan bahwa terdapat penurunan pembelian buku sekitar 6 juta,” ujar Claudia saat menjadi pembicara di Seminar Ilmiah Nasional Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) di Batam, Senin (8/7/2019), sesuai keterangan rilis yang Kompas.com terima, Selasa (9/7/2019).

Kapasitas Claudia dalam dunia perbukuan tak perlu diragukan. FBF yang dikelolanya merupakan ajang pameran buku terbesar di dunia.

Baca juga"Temanku, Teroris?" dari Indonesia Lewat Australia ke Frankfurt Book Fair

Meski mengalami penurunan, lanjut Claudia, dirinya optimistis masa depan buku cetak masih diperlukan. Ini karena buku merupakan sarana terbaik untuk pembelajaran.

"Berdasarkan penelitian yang dilakukan PricewaterhouseCoopers (PWC), buku akan selalu ada," kata Claudia.

Namun, hal tersebut tentu harus dilakukan dengan beragam upaya. Untuk itu, Claudia mengimbau para penerbit agar lebih jeli memahami kemauan pembaca.

"Penerbit akan mati tanpa pembaca," ucap dia.

Lebih jauh Claudia menjelaskan tren digital juga tak mampu mengatasi ancaman pembajakan yang selalu menghantui penulis dan penerbit.

Baca jugaPakai Gerobak, Bu Guru Kurnia Keliling Komplek Tawarkan Baca Buku

"Dunia perbukuan dapat dilihat melalui tiga kacamata, yaitu penerbit, penulis, dan pembaca yang mana hak cipta akan selalu menjadi masalah," kata Claudia.

Tak lupa, dirinya mengingatkan peran pustakawan yang sangat penting dalam memperpanjang napas buku cetak. Ia mencontohkan ajang FBF yang selalu menyertakan kegiatan khusus pustakawan yang bernama International Librarians Forum Center.

“Pustakawan mempunyai peran mulia tersendiri untuk membawa konten buku kepada masyarakat dan perpustakaan kini menjadi ruang untuk bertemu serta mengembangkan kreativitas,” kata Claudia. (Arief Wicaksono/Perpusnas)

Terkini Lainnya
Kisah Pustakawan Spesialis Buku Kritis di Bengkulu, Kagumi Jim Morrison hingga Nietzsche

Kisah Pustakawan Spesialis Buku Kritis di Bengkulu, Kagumi Jim Morrison hingga Nietzsche

Perpustakaan dan Kepustakawanan
Generasi Pertama Literasi Air Ala Tanoker Ledokombo, Jakfar yang Melatih Public Speaking

Generasi Pertama Literasi Air Ala Tanoker Ledokombo, Jakfar yang Melatih Public Speaking

Perpustakaan dan Kepustakawanan
Pustakawan Ahli Utama Jelaskan Pentingnya Data untuk Perpustakaan

Pustakawan Ahli Utama Jelaskan Pentingnya Data untuk Perpustakaan

Perpustakaan dan Kepustakawanan
Soft Skill Jadi Bekal Pustakawan Hadapi Disrupsi Revolusi Industri 4.0

Soft Skill Jadi Bekal Pustakawan Hadapi Disrupsi Revolusi Industri 4.0

Perpustakaan dan Kepustakawanan
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com