Wujudkan SDM Unggul, Perpusnas Lakukan Transformasi Perpustakaan

Kompas.com - 04/12/2019, 12:37 WIB
Inadha Rahma Nidya,
Mikhael Gewati

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando mengatakan, salah satu agenda pembangunan Presiden Jokowi adalah menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.

“Prioritas pembangunan manusia yang unggul menjadi perhatian presiden,” kata Syarif, seperti dalam keterangan tertulisnya, saat Peer Learning Meeting nasional Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial di Surabaya, Selasa (3/12/2019).

Salah satu upaya yang dilakukan Perpusnas untuk mencapai agenda tersebut adalah program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dan literasi.

Dalam program tersebut, perpustakaan dibuat lebih nyaman, diberi koneksi internet cepat, dan disediakan koleksi yang tepat guna.

Baca juga: Pemerintah Jangan Lengah Siapkan SDM Unggul di Era Ekonomi Digital

Syarif menyatakan, transformasi perpustakaan telah berhasil mengubah wajah perpustakaan. Hingga 2019, terdapat 334 perpustakaan desa dan kelurahan yang merasakan dampak positif paradigma baru perpustakaan.

Bahkan di banyak daerah, perpustakaan telah menjadi motor penggerak ragam aktivitas masyarakat.

Hal tersebut terwujud karena komitmen, sinergitas, dan kolaborasi banyak pihak.

Transformasi perpustakaan dalam revolusi industri 4.0

Transformasi perpustakaan juga berguna dalam menghadapi revolusi industri 4.0 yang mengedepankan teknologi. Pada revolusi industri 4.0, dibutuhkan penguasaan literasi yang tinggi.

Literasi sendiri memiliki empat tahapan,  antara lain kemampuan mengumpulkan sumber-sumber bahan bacaan, kemampuan memaknai yang tersirat dan tersurat, kemampuan menghasilkan ide, gagasan, dan kreativitas baru, serta kemampuan menciptakan barang dan jasa.

Lebih lanjut Syarif mengatakan, saat ini keadaan industri Indonesia masih sebatas home industry. Hal tersebut terlihat dari menjamurnya produk-produk luar negeri seperti Jepang dan Korea Selatan.

“Ini karena mayoritas masyarakat bukan lulusan perguruan tinggi. Hanya 10 persen penduduk Indonesia yang mengenyam bangku kuliah,” kata Syarif.

Baca juga: KPAI Usulkan Literasi Digital Masuk ke Kurikulum Sekolah

Keadaan tersebut menjadi tantangan bagi perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang berdaya saing.

“Perusahaan lebih membutuhkan tenaga kerja dibanding deretan gelar,” kata Syarif. (PERPUSNAS/WARA MERDEKAWATI)

Terkini Lainnya
Kisah Pustakawan Spesialis Buku Kritis di Bengkulu, Kagumi Jim Morrison hingga Nietzsche

Kisah Pustakawan Spesialis Buku Kritis di Bengkulu, Kagumi Jim Morrison hingga Nietzsche

Perpustakaan dan Kepustakawanan
Generasi Pertama Literasi Air Ala Tanoker Ledokombo, Jakfar yang Melatih Public Speaking

Generasi Pertama Literasi Air Ala Tanoker Ledokombo, Jakfar yang Melatih Public Speaking

Perpustakaan dan Kepustakawanan
Pustakawan Ahli Utama Jelaskan Pentingnya Data untuk Perpustakaan

Pustakawan Ahli Utama Jelaskan Pentingnya Data untuk Perpustakaan

Perpustakaan dan Kepustakawanan
Soft Skill Jadi Bekal Pustakawan Hadapi Disrupsi Revolusi Industri 4.0

Soft Skill Jadi Bekal Pustakawan Hadapi Disrupsi Revolusi Industri 4.0

Perpustakaan dan Kepustakawanan
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com